11/26/2016

Menjadi Seorang Introvert

Ketika gue lagi scrolling down comment section salah satu video YouTube gue, gue menemukan satu komen yang menarik.



Yes, I am an introvert. Untuk orang-orang yang tau kalau gue adalah seorang introvert mungkin mereka bingung melihat bagaimana gue mem-portray diri gue di sosial media. Terutama di video-video gue. Di mana gue terlihat tidak memiliki kesulitan untuk bersosialisasi dengan orang. Firstly, I can tell you that I'm not an ambivert. Gue masih seorang introvert seperti gue dulu, gue masih lebih nyaman 3 hari nggak keluar rumah, gue masih suka males ngangkat telefon, gue masih suka menunda-nunda bales chat orang, dan gue masih tergolong dalam geng INTJ female. Untuk yang nggak tau apakah itu INTJ, INTJ adalah salah satu dari 16 Myers-Brigg traits yang ada pada manusia. Fyi, cewek INTJ adalah yang paling rare. Di dunia ini cuma ada 1% dari kami. INTJ sendiri adalah salah satu trait yang paling jarang dan hanya terdapat 3% dari seluruh populasi di dunia. Isaac Newton was an INTJ. Begitu juga dengan Stephen Hawking, Mark Zuckerberg, dan Elon Musk.

Menjadi seorang INTJ yang bergelut di sosial media dan dunia maya secara umum adalah hal yang nggak mudah. At least buat gue. Tiap hari gue bertemu dengan berbagai macam kebodohan yang dilakukan orang di internet, such as asking obvious question to being a plain idiot and left me completely speechless. Stupidity is one of my biggest pet peeves. Just stupidity in any form. I got cancer whenever I see people on the internet, especially Indonesians, who are mostly shallow and ignorant. Berita-berita hoax bisa jadi bahan berantem di Facebook, hal-hal nggak penting bisa jadi bahan omongan di Instagram, komen-komen nggak penting bisa aja dikomenin di YouTube. The struggle becomes more real because keeping my mouth shut all the time is the only choice I have. But if you see some things from me that you don't quite understand or you think I'm too mean, too blunt, too arrogant, too this, or too that. It's because of my personality trait.

Ketika gue menutup diri untuk berteman dengan orang Indonesia aja (karena dulu gue berpikir berteman dengan orang beda kultur itu exhaustion. Di mana gue, yang nggak minum dan nggak party, harus ikutan bergaul ala mereka), I've never seen myself fit in any circle. Lingkaran pertemanan terbaik yang pernah gue temui ya cuma temen-temen deket gue sejak SMA. Terbaik dalam hal bebas drama, bebas tipikal pertemanan wanita yang haha-hihi dan nongkrong cantik, dan bebas hal-hal pretentious dan superficial. Di situ gue merasa gue bisa menjadi the realest version of myself. I'm not afraid to sound mean, cold, not interested, or not care. Karena mereka tau gue memang nggak pandai mengekspresikan perasaan gue, gue nggak bisa yang bubbly peluk-pelukan dan miss you-miss you-an sama temen gue, dan nggak suka yang selalu melakukan percakapan yang nggak bisa bikin gue jadi pinter a.k.a cuma gosipin orang. Sampai lah gue di momen di mana gue harus pindah negara. Pindah negara berarti lingkungan baru, orang-orang baru, cara bersosialisasi yang baru. I did find some inspiring people, whom I like to have conversation with. Karena setiap ngobrol sama mereka gue belajar hal baru, obrolannya positif dan berfaedah, dan yang pasti membantu gue untuk tumbuh. Tapi banyak juga lingkaran atau orang-orang yang gue temukan, yang terlalu mengada-ngada. Semua hal yang dilakukan dan obrolannya mengada-ngada, cuma ketawa-ketawa, nggak ada maknanya, kosong, dan bikin bosan. Di situ lah gue merasa muak dengan manusia dan memutuskan untuk masuk lagi ke kandang. Sesekali gue keluar rumah untuk ketemuan sama orang yang kiranya worth waktu gue. Itupun gue lakukan karena otak gue butuh ngobrol dan diskusi 4 mata. Pada saat itu banyak yang menyebut gue manusia goa, karena gue jadi jarang keluar rumah dan jarang kelihatan. Because at that time people I met so far didn't impress me.

Lalu gue tiba-tiba terpikir untuk mencari lingkaran lain selain temen-temen Indo ini. Untuk menghilangkan kebosanan ini mungkin gue harus lebih terbuka dengan orang baru. This time I tried to open up to people with different cultures. I did really well tho. I went to some events and places alone dan di sana gue kenalan sama orang-orang. Dan perkiraan gue nggak salah. Beda kultur = beda mentalitas = beda latar cerita. Beda = sesuatu yang baru = bosannya hilang. Yeayy... Sekarang gue bersemangat lagi untuk bersosialisasi. Akhirnya gue pun makin sering pergi sendirian dan kenalan sama orang lain. Bahkan gue sampe ikut pertukaran pelajar segala demi buat ketemu orang baru. Makin gue encounter social situation, makin gue sadar kalau ternyata introversion ini bisa gue situasikan. Sekarang gue jadi makin bisa untuk nge-switch kapan gue harus introvert dan kapan gue harus outgoing. Gue juga jadi mengerti kalau gue nggak semata-mata malu atau susah bikin teman, tapi ternyata gue males kalau bertemannya cuma begitu doang. Buktinya ketika gue ketemu orang-orang ini, yang bisa gue ajak ngobrol panjang dan berat dari A sampai Z, gue merasakan kepuasan dan kegembiraan yang mendalam karena akhirnya gue nggak usah lagi memakai topeng pura-pura goofy, pura-pura warm, pura-pura sering ketawa, pura-pura jadi tipikal cewek rempong. Apparently I can be myself when I'm with the right people and I'm willing to socialize with them. Gue selalu dapet insight baru ketika bertukar pikiran dengan mereka, karena latar belakang kultur kami yang berbeda. Gue bisa mencoba untuk relate ke mereka karena mereka punya fokus berbeda dengan gue. Intinya adalah gue bisa banyak belajar tentang manusia.

Anyways, ketika lo melihat gue nyaman ngobrol dan bergaul dengan orang lain. Itu berarti gue sedang bersama orang-orang yang tepat :)


11/16/2016

What Happened in The Netherlands Stays Forever

Seperti yang gue kasih tau di Instagram beberapa waktu lalu, tanggal 3 November-11 November gue ngikut pertukaran pelajar Erasmus+ lagi. Kali ini topiknya adalah project management dan diselenggarakan di Reijmerstok, sebuah kota kecil yang terletak di deket Maastricht, Belanda. Buat yang penasaran youth exchange-nya gratis dan dari akomodasi sampe transportasi semua ditanggung oleh pihak Youth for Mobility. Sebenernya alasan gue dua bulan berturut-turut ikut exchange adalah satu, gue ngerasa selain dapet pelajaran hidup dan ijazah kuliah, setelah gue selesai bachelor nanti masih banyak yang nggak gue dapet. Karena gue kuliah kimia murni mahasiswanya dituntut untuk bener-bener jadi nerd karena harus belajar melulu. Buat gue itu bukan lah kondisi yang ideal, di mana gue akan menjadi orang yang selalu berkutat sama sains dan nggak punya social skills. Mungkin buat orang lain sebenernya fine-fine aja, tapi gue merasa gue butuh dapet inspirasi dari orang lain untuk gue jadikan bahan berpikir karena gue orangnya sangat observatif. Gue butuh ketemu orang yang bisa gue ajak untuk bertukar pikiran dan untuk nambah-nambah referensi. Hal-hal tersebut sayangnya nggak gue dapatkan di kampus.







Orang-orang yang kali ini gue temui keren-keren. Mereka dateng dari UK, Polandia, Belanda, dan Jerman. Tapi nyatanya grup nya lebih multikulti lagi. Ada dua orang dari Syria yang adalah refugees, satu dari Yaman, satu dari Jordania, satu dari Bulgaria, Prancis, Romania, Pakistan, Zimbabwe, dan terakhir gue, dari Indonesia. Selama pertukaran pelajar gue banyak ngobrol sama temen gue Ali, dia adalah salah satu refugees dari Syria. Ali ini dari Aleppo, kota yang paling sering dibombardir sama Russia. Karena gue penasaran dengan apa yang sebenernya terjadi gue banyak nanya-nanya ke dia. Kadang dia ngerasa bosen mendengar pertanyaan gue. Dia bilang udah beratus-ratus orang yang nanya hal yang sama ke dia. Ternyata bener yang kita liat di media. Ali dateng ke tanah Eropa bersama dua adik laki-lakinya naik perahu karet, bawa duit 7000 Euro yang dia simpen di dalem celananya, di perbatasan dia bersama beratus ribu pengungsi lain harus jalan berkilo-kilo untuk sampai ke negara selanjutnya, dan sama seperti pengungsi lainnya sebelum revolusi terjadi dia punya hidup yang sangat normal. Apartemennya di Aleppo bagus, ayahnya adalah seorang pebisnis yang berdomisili di Guangzhou dan punya bisnis lain di Filipina. Ketika kami sedang ngobrol tentang masalah ini, dia berkata sesuatu yang nggak akan pernah gue lupain.

"I've never once imagined in my whole life that I'd be a refugee."

Selain itu dia bercerita gimana hancurnya kotanya sekarang. Setelah dibom, di pagi harinya dia biasa ngelihat mayat-mayat atau body parts yang nyangkut di lampu jalan. Sekarang orang-orang yang tinggal di sana udah nggak bisa menjalani hidup mereka secara normal lagi. Yang mereka lakukan hanyalah berusaha untuk bertahan hidup. Tapi kata Ali yang paling menyedihkan adalah setiap kali jet-jet perang terbang di atas Aleppo dan anak-anak kecil ketakutan. Ali nggak tega ngeliatnya.

Ada satu refugee lagi dari Syria, Achmad namanya. Kami berdua sempet berbincang mengenai gimana sulitnya jadi muslim di Eropa. Dia yang baru 10 bulan menetap di Belanda kayaknya masih belum terbiasa dengan bebasnya kehidupan di sini. Selain itu dia juga ngeliat masalah beragama bukan cuma ada di luar islam aja, tapi di dalem juga. Kata dia, dia nggak suka ngeliat banyak komunitas islam atau masjid di deket tempat dia tinggal yang terlalu tertutup dan nggak bisa berintegrasi dengan masyarakat luar. Dia juga nggak suka ngeliat banyak muslim Arab yang merasa lebih alim hanya karena mereka orang Arab. Dan yang paling dia nggak suka adalah khotbah di masjid yang lagi-lagi adalah tentang politik. Rupanya di Syria khotbah di masjid itu udah dipesan sama pemerintah dan harus membicarakan tentang politik. Learnt something new everyday.






Karena yang ikut pertukaran pelajar biasanya orang-orang yang punya awareness besar terhadap isu-isu yang mereka peduliin, berada di lingkungan positif kayak gini bikin gue lagi-lagi makin banyak mikir. And I don't mind that at all. Lagi-lagi gue merasa gue juga harus punya sense untuk berkontribusi dan giving back ke komunitas gue. Lagi-lagi gue merasa gue juga harus peduli dengan apapun di sekitar gue. Entah itu politik, sains, sosial. Karena kalau gue tutup mata, siapa lagi yang akan peduli? Siapa lagi yang akan turun tangan?

Seperti yang kita tahu, mengelilingi diri dengan orang-orang yang open-minded, yang positif, dan yang bisa ngasih kita boost of confidence and motivation itu perlu. Karena lingkungan kayak gini bisa selalu nyadarin kita kalau bumi itu luas dan masih banyak hal yang harus kita explore. Nggak cuma sesekali, tapi setiap kali kita ada kesempatan.