A Cup of Tea

by Gita Savitri Devi

8/23/2017

Rasanya Jadi "Artis"

Beberapa kali orang bilang begini di kolom komentar sosial media gue. Entah itu Instagram atau YouTube:

"Git, cepetan balik ke Jerman lagi, ya! Kalau lo menetap di Indonesia, nanti lo jadi artis."

Mungkin konotasi "artis" itu agak meh sekarang. Karena seperti yang kita lihat tayangan di TV jarang ada yang bermutu. Bahkan sekarang pun ada tayangan yang dikhususkan supaya orang-orang miskin bisa membayar hutangnya, dengan mikrofon. Begitu juga dengan sinetron. Hmm, kalau soal ini nggak usah dibahas lah, ya.

Tapi siapa yang sangka, jadi "artis" dan lalu-lalang di NET TV setiap hari Minggu pagi ternyata adalah salah satu highlight dari kepulangan gue ke Indonesia kali ini.

Alhamdulillah gue mendapat kesempatan untuk bisa memandu salah satu liputan, Halal Living namanya. Liputan ini adalah bagian dari program Indonesia Morning Show. Jujur, waktu gue diajak untuk jadi host untuk salah satu programnya NET TV, gue senengnya bukan main. Karena lagi-lagi gue dapet kesempatan untuk melakukan satu hal yang belum pernah gue kerjakan sebelumnya. Gue nggak punya pengalaman jadi host, hanya sebatas sebagai narasumber. Itupun hanya satu sampai dua segmen. Spiel dalam membuat liputan pun gue nggak tau. Apa yang harus dipersiapkan dan apa yang harus dilakukan? I had zero idea. Tapi menjadi Gita di umur 25 tahun adalah Gita yang nggak mikir bisa atau nggak. So, I was like, "let's do this!".

Untuk yang nggak tau apa itu Halal Living, pada dasarnya itu adalah liputan mengenai daerah-daerah di Indonesia. Selain membahas tentang budaya, kuliner, dan tempat-tempat wisatanya, di sana dibahas juga tentang jejak Islamnya. Biasanya kita membahas masjid yang terdapat di wilayah tersebut.

Intinya, menjadi host Halal Living ternyata dituntut untuk banyak baca sebelum liputan. Karena begitu lah fungsi host, yaitu menyampaikan atau mengulik apa yang ingin diliput untuk dikonsumsi oleh penonton. Kita harus tau apa yang kita bicarakan, supaya ketika ingin improvisasi pun nggak asbun. Kita juga harus banyak bertanya dan ngobrol sama narasumber, biar "tek-tok" ketika bagian chit-chat nya natural. Plus, buat nambah-nambahin info liputan. Karena selengkap-lengkapnya Wikipedia, pasti warga lokal lebih tahu. Yes, ternyata jadi "artis" itu nggak gampang. Harus banyak baca dan belajar sebelum on camera. Harus selalu aktif otaknya walaupun badan lagi kecapean karena selalu kurang tidur.

Liputan pertama yang gue lakukan kebetulan di kota Makassar, bareng sama Hamidah. Hanya dalam 5 hari liputan, gue belajar banyaaaaaaaaaaaakkkk banget tentang kota ini. Gue belajar tentang Pelabuhan Paotere yang dulu ternyata adalah tempat parkirnya kapal Phinisi di zaman kerajaan Gowa. Gue belajar tentang Benteng Somba Opu yang ternyata dulu sempat rusak terkena ombak pasang. Gue juga belajar ternyata membangun benteng di zaman dulu hanya pake putih telur sebagai perekat bebatuannya. Ketika liputan gue juga baru tahu kalau Masjid Raya Makassar dulu dibangun tahun 1949 dan hanya menghabiskan biaya sekitar Rp. 1,000,000.-. Dan yang paling menarik adalah gue bisa bertemu dengan binatang endemik Sulawesi Selatan yang ternyata langka, Makaka Maura.

Apakah gue akan tau hal-hal tersebut tanpa gue memandu liputan ini? Belum tentu. Kepikiran untuk baca-baca soal Makassar aja pasti gue males banget. Mungkin yang terpikir adalah gue pingin makan Sate Padang Ajo Ramon, mumpung gue lagi di Jakarta.

Maka dari itu gue bersyukur banget bisa jadi "artis", apalagi di acara liputan yang mengharuskan gue untuk mengulik bahan. Walaupun liputan serius, tapi ternyata di lapangan orang-orangnya seru-seru banget: Reporternya (halo Lia!), Campers-nya (camera person), Drivernya. Dari mereka gue bisa denger cerita-cerita suka dan duka kerja di pertelevisian. Cerita yang gue nggak pernah denger sebelumnya, karena gue nggak pernah ketemu sama orang yang kerja di TV. Terus sekarang sedikit-sedikit gue jadi tau proses pembuatan suatu liputan. Di TV hanya ditayangkan belasan menit, tapi ternyata prosesnya memakan waktu berhari-hari. Belum lagi sebelumnya harus ada proses mengajukan tempat buat diliput, meriset item-item liputannya. Intinya yang kita lihat outcome-nya sederhana, sebenarnya ada banyak sekali malam yang dilalui tanpa tidur oleh orang-orang di balik layar.

Nah, kalau ada orang-orang yang kecewa gue di Indonesia masuk TV mulu, doi nggak tau aja gimana bersyukurnya gue bisa dapet kesempatan kayak gini. Karena doi nggak tau berapa banyak ilmu baru yang gue dapet :p
Share:

7/26/2017

Kesederhanaan Yang Dirindukan

Kalau kalian aktif di Twitter, mungkin kalian tau kalau beberapa hari ini Twitter gue lagi rame. Alasannya adalah karena di-mention sama salah satu selebtwit yang katanya emang suka komen tanpa tau konteks dan tanpa kenal orangnya. Memang yang gue rasakan semenjak ada mereka-mereka ini, Twitter kayaknya udah NSFW. Salah ngomong dikit, atau bahkan yang sebenernya nggak salah, cuma beda pendapat aja, disayurinnya ruarr biasa. 

Seringkali gue ingin S2 Neuroscience, biar gue bisa tau dan riset perbedaan signifikan apa yang terdapat dalam sel neuron manusia jaman sekarang, sampai untuk melakukan sesuatu atau bicara sesuatu itu nggak ada lagi second thoughts-nya. Mungkin kalau gue lagi lowong, gue mau cari-cari journal/paper tentang itu. Siapa tau ada yang udah pernah ngerjain studinya.

Di sini gue nggak mau ngomentarin tentang selebtwit atau orang-orang yang ngebully gitu sih. Karena sejujurnya gue sampe sekarang belom bacain satu-satu isi tweetnya. Cuma selewat aja, itu pun karena nggak sengaja muncul di notification.

Soalnya, kalau mau gue ladenin, gue jadi keinget sama kalimat ini:

"Never explain yourself. Your friends don't need it. Your enemies won't believe it."

So I let him ngasih wejangan ke gue, dah. Suka-suka dia. Suka-suka followers dia juga. Daripada gue bales nanti nggak kelar-kelar urusannya.

***

Nah, di sini gue mau cerita aja apa yang mendasari perkataan gue tersebut. Lebih ke curhat, sih. Karena ada beberapa hal yang gue rasakan selama di Jakarta ini dan pergolakan yang gue alami sebagai so called social media influencer.

Salah satu value yang diajarkan di rumah gue dari dulu adalah hidup prihatin. Dari gue bocah dulu, bisa makan di McD aja adalah suatu kemewahan. Karena nyokap gue selalu bilang begini, "Mama setiap hari udah ngasih duit pasar ke pembantu. Kalo kita makan di luar, sayang duitnya.". Itu lah kenapa gue sangat segan untuk ngajak nyokap makan di luar. Karena ya itu, appreciate apa yang udah dimasak pembantu gue dan duit yang udah disisihin supaya pembantu gue itu bisa belanja makanan.

Begitu juga ketika gue mau beli-beli barang. Gue selalu sungkan untuk ngomong. Contohnya kayak waktu jaman gue SMP dulu, lagi nge-trend banget tas dan dompet Happy House. Warnanya lucu-lucu banget. Pink, oranye, kuning. Tapi sayang, harganya mahal. Kalau nggak salah satu tas sekolah itu harganya kisaran 200-300 ribu. Alhasil gue cuma bisa beli barang yang kira-kira desainnya mendekati si Happy House ini. Versi Mangga Duanya, lah.

Billaboong, Roxy, dan teman-temannya juga lagi booming. Tapi gue nggak pernah berani buat masuk ke tokonya karena gue tau pasti gue akan kaget liat price tagnya. Jadi, yaa tas gue paling cuma sebangsa Exsport aja. Itu aja menurut gue udah mewah banget.

Ngomong-ngomong, lo pernah nggak sih gue ceritain gimana first impression gue ketika masuk SMP? Gue rada syok. Karena SMP gue itu campuran antara anak dari SD swasta dan SD negeri. Dan kelihatan banget gimana timpangnya kita, anak-anak SD negeri, dengan anak swasta tersebut.

Sempet beberapa waktu gue kangen banget sama masa-masa gue SD dulu. SD gue itu di samping pasar inpres. Setiap mau ke sekolah, gue selalu ngelewatin pasar becek dan gundukan sampah. Temen-temen gue tinggalnya di gang yang comberannya bau kotoran ayam. Gue jadi main di sana terus, deh. Dan gue nggak merasa too rich to be there or to be friends with them karena gue pun 11:12 sama mereka.

Bahkan gue sampai sekarang sangat merindukan kesederhanaan tersebut. Pertemanan yang senyum dan tawanya muncul ketika kita main karet bareng, main galasin, dan jalan-jalan naik mikrolet 09 A. Pertemanan yang nggak lantas hancur hanya karena orang tua teman-teman gue itu sekedar tukang ojek, pedagang di pasar, atau penjahit di konveksi.

Sangking sangat berkesannya masa-masa SD gue itu, gue sampe bertekad untuk masukin anak gue ke SD negeri kalau gue tinggal di Indonesia nanti. Tapi sekarang gue lihat SD negeri juga udah mulai banyak yang borju. Intinya gue bingung, sih, mau nyekolahin anak gue di mana biar dia tau caranya sederhana.

Berlanjut sampai gue besar sekarang, gue selalu menanamkan value itu. Nggak hambur-hambur dan mencoba pakai uang untuk yang penting-penting aja. Fun fact, selama gue 18 tahun tinggal di Indonesia, nggak pernah sekalipun gue minum Starbucks. Because I know that drink is damn expensive dan gue terlalu terintimidasi oleh harganya hahaha. Barulah ketika di Jerman gue coba-coba beli Starbucks. Taunya nggak ada yang spesial selain gulanya yang kebanyakan. Ujung-ujungnya gue lebih memilih bawa botol dari rumah yang berisi air keran. Gratis dan menyehatkan.

Sekarang dengan gue yang nyemplung di dunia begini, entah gue sebut sebagai apa dunia Internet ini. Pastinya gue akan bertemu bermacam-macam orang. Seringkali gue mendengar cerita dan melihat sendiri orang-orang yang bertentangan dengan value yang gue punya.

Tapi gue selalu berusaha untuk stay di mana gue berada sebelumnya. Buat syuting The Comment dan Indonesia Morning Show gue nggak mau pusing harus pakai kostum apa hanya karena gue mau masuk TV. I could care less kalau busana gue not appropriate enough to be on camera. Kecuali pas The Comment, sih. Itu pun bukan baju. Cuma muka gue dimakeupin-nya sampe segitunya banget.

Pernah juga ketika gue diundang untuk nonton Spiderman sama salah satu agency bareng selebgram lain. Yang dateng ke sana nggak cuma selebgram, tapi artis juga. Tapi ya gue merasa terlalu neko-neko kalau gue harus dress up hanya karena mau nonton Spiderman. Toh nanti di bioskop juga gelap dan nggak ada yang ngeliat gue. Bener aja, sama salah satu selebgram gue dikira orang dari agency-nya hahaha.

Buat meeting-meeting sama client, gue selalu cuma pesan minum. Karena pertama, walaupun dibayarin dan bayarnya pake duit perusahaan a.k.a udah disediain budgetnya, gue nggak merasa berhak untuk ngebuang-buang duit (especially bukan duit gue) hanya buat ngenyangin perut gue yang sebenernya saat itu nggak laper-laper banget.

Dikelilingi orang-orang yang terlihatnya sangat berada dan bisa dengan segampang itu ngeluarin duit segepok ternyata cukup challenging. Bukan perkara cobaan untuk nahan-nahan biar nggak kayak mereka, tapi lebih ke sedih dan akhirnya jadi self-reflect sendiri. Alhamdulillah dibesarkan di keluarga yang sangat menghargai uang (karena emang susah dapetinnya) dan tinggal di Jerman yang orangnya nggak neko-neko, gue masih ada rasa malu untuk lalu ikut-ikutan hedon. 

Ada banyak orang yang jauh lebih berada tapi sederhananya luar biasa. Malah gue sangat salut dengan orang-orang seperti itu. Mereka yang mengatur dunianya, bukan dunia yang mengatur mereka. Nggak lantas jadi alergi sama yang murah-murah. Nggak lantas jadi males temenan sama yang berkantong kering. Tandanya prinsipnya luar biasa. Dan gue malu kalau gue sehambur-hambur itu tetapi untuk bersedekah malah nggak seberapa.

Ngeliat di depan mata gimana seseorang pesan makanan yang harganya nggak mahal, terus setelah makanannya dateng dan dicicip sedikit malah nggak dihabisin. Nggak enak katanya. Sementara gue jadi kepikiran gimana detik itu ada orang yang perutnya keroncongan karena belum makan berhari-hari. Melihat gimana manusia memang secara nyata benar-benar bisa tumbuh makin besar kecintaannya terhadap dunia karena mereka merasa semudah itu bisa dapet duit dan ngeluarin duit (dan lebih ngenesnya mereka nggak sadar). Melihat gimana manusia bisa sehedon itu, sematerialistis itu, bisa sedzalim itu ke manusia lain hanya karena duit. Itu semua ternyata sangat nggak bikin nyaman hati gue. Cuma gue nggak bisa ngomong apa-apa selain diam dan mengingat lagi niat gue di dunia ini untuk apa.

Mungkin gue terlalu polos melihat dunia. Mungkin gue terlalu polos menganggap hidup itu tempat cari pahala, bukan ngejar harta buat kemudian dihabisin buat hal-hal nggak berguna. Mungkin gue terlalu kepikiran sama orang-orang kurang mampu di luar sana, sementara kanan-kiri gue berlebih-lebihannya luar biasa. Mungkin gue yang terlalu gusar ngeliat gimana timpangnya keadaan ekonomi orang kita. Mungkin memang harus begitu, ya, jaman sekarang? Acuh, ora urus hidup orang lain.

Itu yang gue curhatin ke nyokap gue baru-baru ini, "Ma, Gita takut nanti standard hidup Gita jadi naik.". She knew what I was talking about. Dia ngingetin untuk selalu berdoa supaya penyakit hati itu nggak ada, supaya kecintaan ke pada dunia nggak melebihi kecintaan ke pada Tuhan, dan gue nggak boleh selalu ngeliat ke atas. Karena sesungguhnya kecintaan sama dunia itu membutakan. Buat orang-orang yang sadar, pasti ngeri sama tipu dayanya.

Perkataan teman gue, yang kata si selebtwit keliru itu, menurut gue adalah reminder yang sangat bagus. "Kalau lo merasa ngeluarin uang 150 ribu untuk satu kali makan itu biasa aja. Tandanya ada yang salah sama lo.". I don't know about you, guys. Tapi gue sadar nggak semua orang seberuntung itu. Nggak semua orang bisa beli makan tanpa mikirin harga lagi kayak orang-orang tajir.

Gue nggak setega itu untuk bilang "Suka-suka gue, lah. Itu kan duit gue.". Ketika gue tau kalau banyak orang di luar sana yang sesusah itu hidupnya. Dan banyak orang yang nge-follow gue dan melihat lifestyle yang gue miliki. Bagaimana pertanggungjawaban gue nanti, kalau ternyata ada banyak orang yang iri melihat hidup gue karena secara tidak sadar gue pamer kekayaan. Lalu orang-orang itu lantas mikir hidupnya itu nggak menyenangkan dan nggak patut disyukuri.

Seperti yang Mbak Kate Welton bilang di Twitter, "It's not about what is standard for individuals. It's about recognising that others may not have the same privilege as you."

Sesimple itu. Sesimple sebaiknya kita sadar ketika standar kita di atas rata-rata dan sebaiknya mensyukuri itu. Bukan malah jadi berlebihan, hambur-hamburan, menjadikan itu suatu kebiasaan, atau bahkan merasa apa yang kita punya masih belum cukup. Karena ada orang yang beneran nggak cukup, tapi mereka malah merasa udah kaya, udah puas. Karena hatinya selalu diliputi oleh rasa syukur.

Itu salah satu alasan kenapa gue nggak pernah jawab kamera apa yang gue pakai untuk ngevlog dan foto. Karena orang bisa googling harganya. Mereka taunya gue punya kamera dengan harga segitu tanpa tau sebenernya sekeras apa gue bekerja dan lantas menabung untuk beli kamera itu setahun kemudian. The same goes to makeup. Orang taunya gue pake Laura Mercier, The Balm, blablabla. Mereka mana mau tau kalau semua produk itu gue beli setelah gue kerja ngebabu di pabrik percetakan yang mengharuskan gue untuk berdiri 9 jam setiap harinya. Dan mereka mana tau kalau barang-barang itu gue pakai seirit mungkin dan bahkan half of them udah kadaluwarsa. Tapi gue nggak tega ngebuangnya, berasa ngebuang duit yang udah gue kumpulin susah payah.

Orang-orang yang kemaren ngebully gue di Twitter hanya tau gue tinggal di Jerman tanpa tau kesulitan ekonomi apa yang gue punya. Tanpa tau seringkali gue bener-bener nggak ada uang hanya buat sekedar beli beras. Mereka pikir tinggal di Jerman itu sudah pasti menyenangkan, sudah pasti dari keluarga berada. Menurut lo, kenapa gue sama Paulus bisa kurus? Karena kita seirit itu. Kita seprihatin itu. Bukan karena kita diet. Tapi netizen nggak mau tau karena mereka memang nggak peduli.

Dan ada banyak orang-orang yang jauh lebih nelangsa dari gue. Di antara followers gue, ada banyak yang lebih tidak beruntung daripada gue. Yang nggak tau hidup gue yang sebenarnya seperti apa. Yang hanya melihat hidup gue berdasarkan foto-foto Instagram yang sudah gue curate sedemikian rupa supaya terlihat ciamik. Apakah rela gue bikin mereka berpikir hidup mereka itu tidak sebanding sama hidup gue? Apakah gue tega ngomong "Suka-suka gue, lah. Itu kan duit gue."? Apakah gue tega untuk hidup seegois itu?

Memang mungkin salah mereka karena langsung membuat kesimpulan akan hidup seseorang hanya berdasarkan sosial media. Tapi ketidaktahuan mereka juga disebabkan gue yang nggak pernah cerita behind the scene nya. Yang mereka lihat di internet tentang gue hanyalah hasil kerja keras, hasil beratus malam yang gue lalui tanpa tidur, dan beribu doa yang gue panjatkan di setiap sholat.
Kontradiktif sekali dengan kerjaan gue di Instagram sebagai social media influencer. Seorang gue yang sama sekali kontra terhadap hidup hura-hura, tapi malah promote berbagai macam barang setiap harinya. Iya, social media influencer itu sebenarnya tidak meng-influence apa-apa selain consumerism.

Di situ lah pergolakaan yang gue rasakan. Di satu sisi gue pingin bantuin online shop dan mereka juga membantu gue bayar segala macam tagihan karena gue memang sudah tidak dibiayai orang tua. Di satu sisi itu pekerjaan gue, di sisi lain itu sangat bertentangan dengan value yang gue pegang. Mau seidealis apapun juga, realistis itu juga perlu. Mungkin di situ lah challenge-nya.

Salah juga mungkin kalau gue berharap followers gue udah wise and mature enough to get my point, karena gue tidak bisa memaksa orang untuk mengerti intention yang gue muliki. For this one, I still don't have the solution.

***

Hhhhh... Hidup itu membingungkan, ya? 

Sejujurnya gue nggak tau point dari curhatan gue ini. Mungkin gue cuma ingin mencurahkan apa yang sudah terpendam berbulan-bulan ini karena gue capek dikira orang berada, capek dijudge gue kaya karena ada yang lihat gue punya product skincare Korea bejibun (padahal itu semua gratisan. Dapet dari Style Korean karena gue kerjasama bareng mereka hikss). 

Yaa, alhamdulillah, sih, mungkin gue sekalian didoain biar kaya beneran. Siapa tau bisa bantuin orang tua gue. Tapi, please jangan kira duit gue ngucurnya kayak air. Kita nggak tau hidup orang itu seperti apa :)


Share:
Blog Design Created by pipdig