A Cup of Tea

by Gita Savitri Devi

2/05/2017

Menjadi Seorang Diaspora

Ketika gue menulis postingan gue yang berjudul Generasi Tutorial, gue nggak pernah nyangka kalau tulisan itu bakal viral. Yang biasanya gue cuma dapet sekitar 20an komentar, kali ini gue dapet sampe 200an. Entah apa yang nge-trigger orang-orang buat ikutan komen. Tulisan gue yang lain juga biasanya nyablak dan nggak gue filter. Karena toh gue nulisnya di personal blog yang fungsinya sama seperti buku diary, based on personal opinion. Tapi buat yang satu ini nggak sedikit orang yang gegen sama pendapat gue, which is normal. Yang nggak normal adalah orang-orang yang ngomong begini nih:

"Emang lo udah berbuat apa buat Indonesia? Bisanya cuma komentar doang."
"Alah, tinggal di luar negeri aja pake sok-sokan komentar. Pulang dulu sini baru boleh ngomong!"

Kenapa gue bilang ini nggak normal? Karena dari kalimat di atas terkesannya yang boleh berkomentar tentang negaranya sendiri adalah hanya yang tinggal di negara tersebut. Orang-orang yang tinggal di luar negeri nggak boleh ikutan berkoar-koar, walaupun kewarganegaraannya masih Indonesia.  Gue jadi bingung, orang-orang ada sentimen apa sih terhadap diaspora?

Banyak orang ngomong ke gue, selama masih tinggal jauh dari Indonesia, gue masih belom memberi kontribusi nyata. Sementara gue nggak terlalu mengerti sebenernya yang dimaksud "kontribusi nyata" oleh mereka itu apa? Apa gue harus jadi presiden kah? Jadi menteri? Jadi pemimpin partai? Jadi politikus? Jadi aktivis HAM? Karena sebetulnya, yang mungkin nggak dimengerti oleh orang-orang yang tinggal di Indonesia, para diaspora di luar negeri nggak membawa namanya sendiri. Yang dia bawa adalah negara dan bahkan agamanya. Dengan berlaku sebagai citizen yang baik di negara yang ditinggali sekarang menurut gue sudah menjadi bentuk kontribusi. Karena lagi, toh kami adalah representasi dari negara asal kami.

Karena keseringan mendengar kata "kontribusi nyata" lama-lama gue jadi merasa orang-orang yang sentimen dengan diaspora sebenernya nggak ngerti apa yang mereka omongin. Mungkin dipikiran mereka tinggal di luar negeri itu selalu enak kali, ya. Nggak ada susahnya, hidup serba nyaman, jalan-jalan pake coat sambil minum coklat panas menerpa udara dingin. So, to clarify, gue akan sedikit menceritakan gimana pengalaman gue tinggal di luar negeri supaya kalian ada bayangan.

Gue nyampe ke Jerman tahun 2010. Saat itu gue masih umur 18 tahun. Masih remaja, masih labil, baru lahir kemaren. I don't know about you guys, tapi "dipaksa" untuk beradaptasi dengan lingkungan yang completely different di umur yang masih muda itu cukup challenging. Terutama ketika semuanya harus dihadapi sendiri tanpa orang tua. Gue harus menyerap segala sistem yang ada di Jerman dan mengubah cara gue berpikir, bertingkah, dan ber-ber-ber lainnya supaya gue bisa berintegrasi dengan baik. Mungkin banyak orang berpikir kalau galau tinggal di luar negeri itu cuma sebatas galau karena jauh dari rumah. But for me, jauh dari rumah adalah hal terakhir untuk digalauin. Galau akademik adalah salah satu yang bikin semua ini begitu sulit. Karena bukan gimana-gimana, coy. Kalau taunya kita gagal ujian, kita bisa dikeluarin dari universitas dan ujung-ujungnya balik ke Indonesia. Bayangin berapa banyak waktu, energi, dan materi yang udah keluar tapi ujung-ujungnya malah nggak dapet gelar. Dan kuliah pake bahasa Jerman, di universitas Jerman itu nggak gampang. Boro-boro mau dapet nilai bagus, lulus aja udah sukur. Bukan itu aja. Nggak semua orang yang tinggal di luar negeri itu orang kaya, gue contohnya. Kalau gue kasih liat berapa duit di rekening gue sekarang mungkin lo semua pada kaget. Maka dari itu mahasiswa di sini rata-rata harus kerja cari duit sendiri. Bukan buat liburan, bukan buat nambah uang jajan. Tapi buat makan dan bayar uang sewa apartemen. Gue harus selalu muter otak gimana caranya gue bisa dapet duit. Entah itu kerja di pabrik, di cafe, atau kayak sekarang nih, gue menjadikan YouTube sebagai source income. I can tell you keadaan ekonomi gue nggak seberapa nelangsa. Ada banyak mahasiswa yang lebih susah dari gue dan alhasil kuliahnya nggak lulus-lulus karena harus kerja terus. Belom lagi kalau ada masalah personal yang muncul seperti masalah keluarga, masalah sama temen, dan masalah-masalah lainnya. Dan yang paling penting adalah harus menjalani proses pencarian jati diri dan adulting tanpa bimbingan siapa-siapa, nggak ditemenin keluarga dan orang-orang yang wajahnya familiar, ternyata susahnya minta ampun. The bottom line is: ternyata hidup sendiri di negara asing itu nggak seindah foto-foto turis Indonesia di Instagram. Dan ini semua bukan cuma terjadi sama gue. Semua student Indonesia yang gue kenal di Jerman mengalami hal yang sama.

Menghadapi realita, kesulitan, dan keribetan tinggal di luar negeri, tapi masih menjadikan si negara tercinta sebagai topik pembicaraan setiap kali kita ngumpul, menurut gue adalah sesuatu yang harus diapresiasi. Tandanya WNI di sini masih peduli sama kampungnya. Nggak lantas langsung "Bhay!!! Gue udah enak tinggal di Jerman. Gue ogah ngurusin Indo lagi.". Bukan cuma sekedar berdiskusi, in fact kita selalu mencari cara gimana supaya kita bisa bantu sedikit-sedikit sesuai porsi yang kita bisa. Dan yang harus dipahami, setiap orang punya hak dan preferensi masing-masing gimana cara dia berkontribusi untuk negaranya. Ada orang yang lebih prefer untuk mengaplikasikan ilmu yang dia dapet waktu kuliah di Jerman dulu untuk terjun langsung ke sektor-sektor yang masih harus dibenerin. Ada yang lebih prefer untuk jadi orang sukses di Jerman karena toh kayak yang gue bilang berkali-kali, dia adalah representasi negara asalnya. Ada juga orang-orang yang kayak gue, yang memanfaatkan sosial media buat menggerakan anak muda Indonesia supaya bisa proaktif untuk bangun negara. Nggak ada yang salah dengan semua itu. Toh semuanya positif, semuanya bermanfaat, dan semuanya adalah buat Indonesia. Maka dari itu menurut gue sangat childish kalau masih ada orang-orang yang seakan-akan membungkam mulut diaspora dengan embel-embel "belom memberi kontribusi nyata".

Sebenernya ada banyak hal yang orang-orang tersebut nggak pahamin. Wajar, seseorang harus ngerasain dulu gimana tinggal di luar negeri yang sebenernya baru bisa ngerasa relate (tapi kalau gue ngomong kayak gini biasanya sih gue langsung dicap sombong. Yasudahlah, toh gue hidup bukan buat menyenangkan semua orang). Salah satunya adalah kenapa banyak diaspora yang terlihat agak sungkan untuk pulang (for good). Ada satu temen gue yang dulu S2 di Belanda. Sekarang studinya udah kelar dan dia udah balik lagi ke Indonesia. Suatu hari gue chatting sama dia. Ternyata dia lagi galau. Dia kangen sama Belanda katanya. Wajar lah ya, gue ngebayangin kalau gue udah lama tinggal di Jerman terus gue balik ke Indonesia, pasti gue akan kangen. Salah satunya kangen sama Kubideh dan D√∂ner Kebab. Tapi ternyata dia bukan cuma kangen negaranya, tapi juga sama kehidupannya. Ada rasa ketakutan dalam dirinya dia. Karena setelah semua pengalaman, cerita, suka, dan duka yang bener-bener jadi pelajaran berharga buat dia, yang dialami hanya sekitar 2 tahun tinggal di tanah Eropa, dia harus balik lagi ke lingkungan yang itu. Lingkungan yang pada kenyataannya kurang kondusif untuk bikin manusianya tumbuh jadi lebih baik. 

Gue sangat paham dengan ketakutan temen gue ini, karena jujur gue juga merasakan hal yang sama. Sesulit-sulitnya tinggal di negeri orang, tempat ini lah yang bikin gue jadi orang yang kayak sekarang. Di tempat ini lah gue bisa belajar banyak hal yang berguna, bukan cuma ngurusin drama politik dan agama yang suka nganeh ataupun gosip artis masa kini. Sebelum gue diserang oleh orang yang sensitif, let me tell you this: gue tau dan gue udah liat sendiri, ada lingkungan-lingkungan sehat dan positif di Indonesia yang pastinya akan sangat suportif terhadap pertumbuhan kualitas gue sebagai individu. Tapi mereka nggak mainstream. Pertanyaannya adalah apakah nanti gue akan cukup kuat untuk nggak keikut arus utama? Apa nanti gue bisa tetap menjaga kualitas percakapan dan cara berpikir walaupun gue dikelilingin sama society yang mayoritas masih superficial? Gue nggak tau apakah gue akan tahan dikelilingi orang-orang yang lebih seneng ngomentarin alis orang lain ketimbang ngomongin sesuatu yang bikin pinter. Gue juga nggak tau apa nanti gue bisa sabar sama orang-orang yang ngomongnya janjian jam 1 tapi baru dateng jam 3. Dan gue juga nggak tau apakah gue bisa tetep di zen-mode ketika mobilitas gue super terganggu dan gue nggak bisa ngelakuin semua yang udah di-plan untuk hari itu karena jalanan di Jakarta nggak bisa diprediksi? Belom lagi gue harus menghadapi situasi yang sebenernya bisa diselesain secara cepat dan efisien, tapi sayangnya Indonesia masih menganut prinsip "Kalo bisa dipersulit, kenapa harus dipermudah?".

Terlebih karena sekarang gue udah memasuki umur 25, gue udah mulai kepikiran tentang keluarga. Gue emang belom nikah, tapi gue udah mulai berpikir di mana gue harus membesarkan anak gue supaya dia bisa tumbuh jadi orang yang kritis dan punya prinsip kuat. Gue aktif di sosmed. Gue suka mengobservasi apa aja yang lagi in di antara remaja dan gimana kelakuan anak muda sekarang. Dari yang gue liat, anak-anak muda yang cemerlang masih jauh lebih sedikit ketimbang yang begitu-begitu. Sekarang aja pergaulan udah makin aneh, apalagi nanti di jamannya anak gue? "Tapi kan itu tergantung orang tuanya, Git.". Ya, memang. Tapi gue pernah ngerasain gimana jadi anak yang tumbuh besar di Indonesia dan gue pun ngelihat sendiri gimana anak-anak yang besar di Jerman. Gue melihat orang tua di Jerman seperti punya kontrol lebih besar terhadap anaknya. Pergaulannya, agamanya, akademisnya, semuanya lebih mudah untuk dijaga dan pengaruh buruk dari luar lebih bisa difilter. Gue nggak tau kenapa, sih.

Selain itu gue juga harus mempertimbangkan kenyataan kalau untuk menjadi fully independent mother (or mother-to-be) di Indonesia itu sulit. Ketika nyokap mengandung gue dulu, dia nggak perlu minta anterin siapa-siapa atau tergantung dengan orang lain hanya karena dia lagi berbadan dua. Belanja bisa dikerjain sendiri, ke mana-mana bisa jalan sendiri karena toh transportasi di Berlin juga sangat mementingkan kenyamanan penggunanya. Juga untuk ibu-ibu yang punya anak bayi. Nggak perlu pake mobil, tinggal bawa stroller mereka bisa jalan sama anaknya. Nggak perlu takut kenapa-kenapa ataupun cemas dengan polusi udara. Taman-taman buat berjemur juga banyak. Bersih pula. Makanan buat si anak juga bisa lebih terjaga karena di sini penjualnya masih punya rasa tanggung jawab. Kita nggak perlu takut sama produk-produk yang ditambahin bahan kimia.

Intinya adalah kalau ada WNI yang nggak mau balik lagi ke Indonesia, gue rasa doi bukannya udah lupa sama negara. Ada banyak pertimbangan yang dia punya, yang kita nggak tau. Menurut gue setiap orang berhak untuk memilih apa pun yang menurut mereka terbaik buat dirinya. And who are we to judge?

Yha, gue jadi ngelantur. Ya intinya gitu, lah. Nyinyirin diaspora yang mencoba untuk memberikan opini dan pemikiran terhadap negaranya itu nggak akan menyelesaikan masalah. Nggak bikin Indonesia jadi maju dan yang pasti nggak bikin orang-orang di Indonesia lebih berhak untuk berkomentar. Berprasangka baik dan mensupport apapun yang udah dilakukan oleh setiap warga negaranya mungkin adalah the best thing to do. Karena kita-kita, diaspora, nggak akan lupa kok sama negara. Mau di mana pun kami tinggal, hati kami tetap Indonesia.
Share:

1/25/2017

New York Calling - Day Two

I'm back with my New York story! Setelah postingan kemaren yang bikin banyak orang gonjang-ganjing, sekarang gue mau nulis tentang yang santai-santai aja LOL. So, what did I do on day two? Karena di hari pertama jadwalnya padat banget, malam harinya gue butuh waktu cukup banyak buat istirahat. Alhasil di hari kedua gue keluar rumahnya agak siangan. First thing I did was having lunch. Di Berlin gue sangat jarang menemukan kesempatan untuk makan di restoran Korea. Eyke student, bok. Kalau makan di luar mulu bisa-bisa hari selanjutnya gue cuma makan nasi sama garam doang. Tapi karena kali ini gue lagi liburan gue jadi punya alasan untuk justifying keinginan gue makan makanan Korea. Bokap dan gue pun ketemuan di Grand Central Terminal dan googling kira-kira di mana ada restoran Korea yang enak. Di Queens ada daerah namanya Flushing. Di situ ada China Town yang juga banyak restoran dan bahkan toko kosmetik Korea. Queens letaknya di sebelah kanan atas kalau di peta. Cukup jauh, sih, dari tempat kami biasa main. Jadi kami harus naik subway cukup lama untuk sampe ke sana.

Table full of Banchan

The food was really delicious. Kita dapet banyak banchan atau side dishes yang belom pernah gue dapet sebelumnya di restoran Korea di Berlin. I was surprised that I got the fish as side dish as well dan super excited karena dari dulu gue pingin banget nyobain ikannya. Ternyata doi agak annoying buat dimakan karena durinya buanyak banget! Gue pun agak surprised karena biasanya kalau pesen Bulgogi di Berlin nggak dapet lettuce wrap, tapi di sini dikasih dan banyak pula.

Setelah makan gue pun nggak menyianyiakan kesempatan untuk belanja fask mask di toko Skin Food. Kebetulan saat itu mereka lagi ada sale $1 untuk satu mask pack. Karena lagi-lagi di Berlin nggak ada begituan dan harus banget pesen lewat online, gue borong cukup banyak. Kalo nggak salah gue beli sampe 15 biji plus sekalian beli black sugar mask.

Tujuan selanjutnya adalah World Trade Center site, another touristy spot. Area yang dulu sempet disebut sebagai "Ground Zero" ini terletak di Lower Manhattan. Lower Manhattan ini kawasan perkantoran. Isinya dipenuhin sama gedung-gedung tinggi yang cantik kalo dilihat dari jauh, tapi rada bikin sesek kalo kita lagi ada di tengah-tengahnya. Gue inget banget pertama kali gue sampe di WTC site satu hal yang gue ucapin adalah, "Pas WTC masih ada ini tempat sesak juga, ya? Nggak bakal dapet sinar matahari.". Di spot gedung WTC sekarang udah dibangun memorial semacam kolam gede yang sisi-sisinya diukir nama-nama korban yang meninggal pada kejadian 9/11 namanya National September 11 Memorial. Di sebelahnya ada National September 11 Museum yang berisi serpihan-serpihan reruntuhan gedung WTC, foto-foto korban, barang-barang korban yang ditemuin di tempat kejadian, dan besi-besi gedung WTC yang meleleh karena ditabrak sama pesawat.

One World Trade Center





Bokap dan gue memutuskan untuk masuk ke museumnya. Bayarnya cukup mahal, $24 untuk satu orang. Berhubung gue turis dan gue pikir kapan lagi gue bisa ke sini, akhirnya ya gue masuk aja. Yang menarik perhatian adalah desain museumnya bagus. Museumnya dibuat gelap, luas, dan kosong. Kayaknya biar suasana mencekamnya dapet. Selain serpihan gedung, di sana kita juga bisa liat video, slide show, dan dengerin audio orang-orang yang berada di TKP ketika 9/11 terjadi. Satu yang mengherankan, di sana nggak dipajang serpihan pesawat yang nabrak. So far oke, sih, museumnya. Bokap dan gue selama di sana berdiskusi panjang lebar tentang konspirasi yang selama ini beredar dan dia cerita juga gimana reaksi dia ketika 9/11. Saat itu dia tinggal di California. Doi lagi di kamar mandi katanya. Terus temennya langsung manggil-manggil dia dan nyuruh bokap gue liat TV. Mereka syok nggak percaya kalo ada pesawat nabrakin gedung. Bokap gue langsung nelfon temennya yang ada di New York dan nyuruh dia liat TV. Temennya langsung teriak kaget setengah mati. Seru, sih, pas denger cerita bokap. Waktu di rumah pun gue sempet cerita ke host Airbnb gue, Juan, hari itu gue ke 9/11 Memorial dan nanya ke dia hari itu dia lagi di mana. Doi lagi di sekolah. Dia bilang dia lebih kaget ketika ada pesawat yang ke dua yang nabrak WTC. Sekolah doi pun langsung dibubarin.







Thanks to winter, hari udah mulai gelap. Kami berdua pun lanjut ke tujuan selanjutnya sebelum malam dateng. Touristy spot yang berada dekat dari Lower Manhattan adalah Brooklyn Bridge. Coming here was such a pain in the butt karena dari 9/11 Memorial somehow jalur subwaynya nggak efektif buat langsung ke tempat ini. Gue pun jadi harus jalan cukup jauh. Brooklyn Bridge adalah salah satu tempat favorit gue. Kalo lo liat ini sebenernya cuma jembatan biasa, nothing special. Tapi entah kenapa gue seneng aja berdiri di atas sana, ngeliat gedung-gedung tinggi, ngeliat mobil lalu-lalang. There is something charming about this bridge and I don't know exactly what. Anyway, waktu lagi memandang (caelah memandaaangg) jembatan ini gue sembari pegang-pegang betonnya, besinya, talinya. Semuanya sturdy banget dan wondering siapa yang ngebangun. Eh, taunya jembatan ini dibangun sama imigran dari Jerman. Nggak heran konstruksinya bagus (dasar gue aja kali, ya, yang biased sama Jerman lol).




Nggak kerasa hari udah gelap. Perasaan gue baru beberapa menit foto-foto di atas jembatan. Karena udah capek juga, bokap dan gue memutuskan untuk pulang dan lanjut jalan-jalan esok hari.
Share:
Blog Design Created by pipdig