A Cup of Tea

by Gita Savitri Devi

1/18/2018

Manusia Dan Beribu Alasannya

Saat itu gue sedang dalam perjalanan ingin mengambil laptop gue yang hari itu udah selesai direparasi. Karena seminggu ini gue udah terlalu banyak berkutat dengan smartphone dan layar kecilnya itu, gue memilih untuk baca buku untuk menemani gue di kereta. Hitung-hitung sebagai refreshment untuk mata. Ketika lagi asik membaca, kereta gue berhenti di salah satu stasiun. Kemudian masuk lah seorang Penner. Dalam bahasa Jerman, Penner berarti pengemis atau tuna wisma yang tinggal di jalanan.

Gue adalah orang pertama yang dimintai uang sama dia. Out of all the passengers, kenapa gue? Apakah karena muka gue yang terlihat baik atau karena gue terlihat seperti orang berada? Either way, gue menolak dengan halus pengemis ini. Bukan karena sedang nggak ada koinan, tapi karena gue nggak mau memberi.

Kemudian dia memohon lagi sama gue apakah gue punya makanan instead uang. Lagi, gue menolak secara halus. Kali ini karena gue memang nggak sedang ada makanan.

Pengemisi ini pun berlalu, memberi pertanyaan di kepala gue dan sedikit penyesalan.

"Kenapa gue nggak mau ngasih uang?"

Kebanyakan pengemis yang gue lihat menggunakan uangnya untuk obat-obatan dan alkohol. Mengetahui uang yang baru saja kita berikan akan digunakan untuk kesenangan temporer membuat gue selalu berpikir empat kali untuk lantas memberi. Menyisihkan sebagian uang kecil terasa berat jika melihat orang yang meminta hanya menadah tangan, melihat mereka tidak berusaha cukup keras untuk keluar dari kesengsaraan.

Yang selalu hati gue pertanyakan, "Git, apa lo yakin mereka nggak berusaha?"

Nggak, gue nggak yakin. Mungkin baru kemarin mereka coba-coba cari pekerjaan. Mungkin juga si pengemis sudah 5 tahun keluar masuk kereta hanya meminta-minta.

Biasanya setelah itu otak gue akan mencoba berargumen lagi, mengingat kembali cerita tentang orang dari kampung yang datang ke Jakarta untuk bekerja, sebagai pengemis tentunya. Dia sengaja meminta-minta di lampu merah, seakan-akan nggak ada pekerjaan lain yang bisa dilakukan dan benar-benar kepepet hidupnya. Tapi ternyata di kampung hidupnya cukup berada. Punya harta yang dibeli dari hasil mengemis di ibu kota.

Perdebatan ini biasanya berlangsung sepersekian detik. Tidak terlalu lama jika dibandingkan dengan perdebatan antara dua manusia. You know, our brain thinks way faster than our mouth and brain combined trying to construct a sentence. Tapi tetap terlalu lama untuk membuat pengemis ini menunggu di depan kita dengan muka memelas sembari kita menyelesaikan perdebatan antara si otak dan si hati. That's why I ended up telling him or her no. I don't wanna make this person wait.

...

Direct message seorang kawan pagi ini mengingatkan gue akan kejadian di atas. Dia bercerita tentang percakapan antara Nabi Musa as. dengan Allah SWT. Dalam percakapan ini Nabi Musa bertanya tentang ibadah yang membuat Allah senang. 

Bukan sholat, karena sholat sesungguhnya melindungi kita dari perbuatan keji dan munkar. Bukan dzikir, karena dzikir membuat hati kita tenang. Bukan pula puasa, karena puasa membuat kita belajar untuk menahan hawa hafsu.

Kemudian Nabi Musa lantas bertanya ibadah apa yang dapat membuat Allah SWT senang.

Allah SWT menjawab, "Sedekah. Tatkala engkau membahagiakan orang yang sedang kesusahan dengan sedekah, sesungguhnya Aku sedang berada di sampingnya."

Look at you, Gita. Si manusia yang punya seribu alasan untuk tidak membahagiakan si pengemis, padahal sebenarnya lo tidak membutuhkan satu alasan pun untuk menolong orang lain.

Share:

1/07/2018

Kerudung Hanyalah Sebuah Kain

Perempuan satu ini adalah junior gue di Jerman. Kita bertemu pertama kali di Hamburg dan nggak banyak ngobrol, tapi biasanya sesama mahasiswa S1 di Indonesia kita saling kenal lewat media sosial. Dari media sosial dia juga, gue tau dia sekarang sedang berada di Istanbul karena sedang ikut program pertukaran pelajar. Alhasil waktu di Istanbul kemarin, gue ngajak dia ketemuan.

Dia nyamperin gue di hotel tempat konferensi dan kita berdua naik taksi online ke komplek Hagia Sofia, Masjid Sultan Ahmed, dan sebagainya. Di mobil dia cerita banyak, salah satunya adalah kenapa dia memilih Turki sebagai destinasi. Sebenernya tanpa dia jelasin ke gue, sedikit banyak gue bisa ngerti. Setau gue rasa ingin tau dia besar dan anaknya suka belajar. Belajar di sini maksudnya agama dan sejarah. Turki yang kita tau memang kaya banget akan sejarah Islam-nya. Sebagai orang Islam, nggak heran cerita tentang Konstantinopel dan Ottoman Empire menarik banget untuk dinapaktilasi.

"Kak, gimana kesan-kesannya setelah beberapa hari di sini?" tanya dia.

Sejujurnya gue agak sedih sesampainya gue di sana dan ngeliat sendiri bagaimana keadaannya. Growing up, all I heard was how powerful Ottoman Empire was. Tapi sekarang dengan mata kepala gue sendiri, gue melihat kejayaan itu serasa nggak bersisa. Islam di sana hanya sekadar entah apa, padahal 99% penduduknya adalah muslim.

...

Terima kasih kepada kemacetan jalanan Istanbul, kita berdua jadi banyak cerita panjang lebar. Perjalanan jadi nggak berasa, tiba-tiba kita udah sampai. Karena saat itu udah jam 17.00, tempat yang mau kita kunjungi udah tutup. Kita berdua pun langsung menuju ke satu restoran yang direkomendasiin sama temen gue, Johnny, karena pemandangannya yang bagus banget. Dari restoran tersebut kita bisa lihat selat Bosphorus beserta jembatannya dan bangunan-bangunan bersejarah terkenal di Istanbul.

Percakapan kita lanjutkan dan mengalir begitu saja. Dari sekian banyak obrolan, ada satu hal yang masih menempel di otak gue sampai sekarang. Teman gue ini bercerita bagaimana sulitnya perjalanan menuju dia yang sekarang; berkerudung syar'i. Gue nggak terlalu tau masa lalunya dan dari keluarga yang bagaimana dia, tapi terlihat banyak sekali kenikmatan dunia yang udah dia tinggalin, banyak sekali sifat-sifat, sikap, dan kebiasaan dia yang nggak mencerminkan agamanya yang juga udah dia buang jauh-jauh. Dan terlihat sekali bagaimana dia sangat menghargai kain yang dipakai di kepalanya, karena secara tidak langsung dia sedang "memakai" agamanya.

Cerita dia membawa gue ke satu hal yang udah mengganggu gue sejak lama; hijab is just a piece of cloth and does not represent who you are. Jujur, sekarang ini gue merasa gue tinggal di zaman yang membingungkan. Semua serba abu-abu dan buat gue ini bahaya.

Masalah yang gue miliki adalah bagaimana sekarang banyak muslimah yang berkerudung, tapi cara pikirnya, sifatnya, dan kelakuannya jauh dari apa yang dianjurkan Tuhannya. Gue pun begitu. Gue berkerudung, tapi gue pacaran. Gue berkerudung, tapi gue sering kali masih belum bisa mengontrol emosi gue. Gue berkerudung, tapi terkadang gue masih punya penyakit hati.

Gue sadar, gue dan muslimah berkerudung lainnya bukan manusia yang sempurna. Tapi yang menyeramkan adalah jika kita sudah menormalkan ketidaksempurnaan kita dan nggak berusaha memperbaiki diri. Dan untuk menjustifikasi kelakuan kita yang sangat tidak islami ini, kita malah merendahkan kerudung, beralasan kalau kerudung hanyalah kain dan ia tidak ada hubungannya sama sekali dengan akhlak. Kita sendiri lantas tetap bertingkah #yolo dan sebodo teuing.

Gue nggak tau pemikiran mana yang bener dan yang salah. Tergantung dari sisi mana kita melihat dan mungkin argumen di atas nggak 100% salah.  Tapi yang jelas, melihat ada satu orang (dan gue yakin ada banyak yang juga begitu) yang sangat menghargai kerudung sebegitu tingginya, yang rela meninggalkan semua hal yang tidak merepresentasikan agamanya dengan baik hanya demi secarik kain tersebut, gue merasa sangat hina.


Share:
Blog Design Created by pipdig